MOST RECENT

Pancasila Belok Kanan, Kiri, lalu Mati


Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KHA Hasyim Muzadi menegaskan, Pancasila merupakan ideologi yang diakui dunia, tetapi praktiknya pernah dibelokkan ke kiri, kanan, lalu tidak berbelok ke mana-mana atau mati.    
"Di era Orde lama, Pancasila keok karena terlalu ke kiri, lalu di era Orde baru justru terlalu ke kanan, dan di era Orde Reformasi justru jalan di tempat karena tidak berbelok ke mana-mana atau mati," katanya dalam seminar nasional di gedung Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, Sabtu (18/6/2011).      
Hasyim mengemukakan hal itu saat menjadi pembicara seminar bertajuk "Reaktualisasi Ideologi Pancasila" yang diselenggarakan PW NU Jatim untuk memperingati hari lahir (Harlah) ke-88 NU pada 16 Rajab 1432 Hijriah dengan pembicara, antara lain, Prof Dr H Suko Wijono MA dari Laboratorium Pancasila Malang.      
Menurut mantan Ketua Umum PB NU itu, Pancasila di Orde Reformasi justru disalahkan karena dianggap sebagai biang kesalahan yang ada, dan Pancasila dianggap tidak mampu memberikan jawaban sama sekali.      
"Padahal, apa yang terjadi itu akibat dari kita yang tidak manut (patuh) kepada Pancasila sehingga terjadi keuangan yang mahakuasa, kemanusiaan yang tidak beradab, persatuan yang tidak ada lagi, kepemimpinan yang jalan sendiri tanpa peduli nasib rakyat, serta keadilan sosial, ekonomi, dan hukum yang mirip jauh panggang dari api," katanya.      
Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam di Malang dan Depok itu mengatakan, banyak ulama besar di dunia mengakui kebenaran ulama Indonesia memilih konsep "negara-bangsa" dengan Pancasila sebagai dasar negara. "Banyak ulama besar di dunia yang membenarkan ulama Indonesia dalam memilih konsep negara bangsa karena kalau di suatu negara itu ada lebih dari satu agama, maka konsep yang benar adalah 'Dzimmiatul Islam'. Jadi, NU lebih maju dari orang lain, bahkan di dunia," katanya.   
Hasyim menilai, Pancasila merupakan ideologi pemersatu dan pembeda. Pancasila merupakan pemersatu bagi negara dengan multiagama, sedangkan Pancasila sebagai pembeda merupakan ideologi yang tidak sekuler dan tidak agamis.
"Pancasila yang tidak memilih negara sekuler dan negara agama, melainkan negara bangsa, itu bukan berarti meniadakan agama, tetapi agama yang diadopsi bukanlah tekstual, melainkan nilai-nilai agama. Misalnya, Undang-Undang Antikorupsi itu sangat agamis," katanya.      
Terbukti, pilihan para ulama Indonesia dari kalangan NU tersebut mampu menjaga kerukunan dalam kemajemukan, dan NU sendiri mampu menjadi "jangkar" bagi keberagamaan yang terlalu tekstual, baik terlalu tekstual ke Islam maupun terlalu tekstual ke komunis/liberal.      
"Itu beda dengan negara agama, tetapi akhirnya tidak menerapkan nilai-nilai agama, seperti negara Islam, tetapi warganya justru menyetrika tenaga kerja wanita dari Indonesia," katanya.      
Senada dengan itu, Wakil Kepala Laboratorium Pancasila dari Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr H Suko Wijono MA mengakui bahwa NU memang merupakan rujukan tentang Pancasila karena tokoh NU, KH Wahid Hasyim, merupakan salah satu panitia perumusan dasar negara.      
"Tetapi, era Orde Reformasi membuat orang menghindari Pancasila karena Pancasila dianggap berbau Orde Baru, namun untuk masa sekarang semangat reaktualisasi Pancasila mengalami kendala globalisasi, yakni kapitalisme, liberalisme, dan radikalisme," katanya.    
Ia mencontohkan, kapitalisme telah membuat televisi menjadi sangat memengaruhi kehidupan, bahkan 90 persen kerusakan moral remaja di kota-kota besar akibat televisi.      
"Kapitalisme membuat pemilik televisi hanya mementingkan pasar, mementingkan iklan, mementingkan pemilik media, tetapi mereka mengabaikan publik, atau bahkan mengorbankan masyarakat, dan karena itu perlu reaktualisasi. Untuk itu, jangan membantu Pesantren Al-Zaytun, tetapi bantu pesantren NU untuk membudayakan Pancasila," katanya. 

Narasumber : Kompas.com

09.34 | Posted in , | Read More »

Aktivis Perempuan: Lelaki Boleh Punya Budak Seks


Seorang politikus perempuan Kuwait dihujani kecaman karena mengusulkan agar perbudakan seks dilegalkan agar kaum lelaki Kuwait tidak berzina. Dengan memiliki budak seks, mereka terhindar dari godaan perempuan yang bukan istrinya.
"Di sana pasti banyak tawanan perempuan Rusia. Jadi pergilah ke sana, beli mereka lalu jual di Kuwait. Itu lebih baik ketimbang melihat kaum lelaki kita menjalin hubungan seksual terlarang."
Salwa al Mutairi, aktivis sosial yang pernah mencalonkan diri sebagai anggota parlemen, menyarankan budak seks bisa diambil dari tahanan perempuan dari negara-negara yang terlibat perang.
Menurut dia, "berbelanja" tawanan perang bisa dilakukan di Chechnya. "Di sana pasti banyak tawanan perempuan Rusia. Jadi pergilah ke sana, beli mereka lalu jual di Kuwait. Itu lebih baik ketimbang melihat kaum lelaki kita menjalin hubungan seksual terlarang," ujarnya.
Soal tawanan perang ini, Mutairi mengajukan argumen. Dengan menjadi budak seks pria Kuwait, katanya, perempuan-perempuan itu mendapat kehidupan yang lebih baik dan "terhindar dari kelaparan".
"Menurut saya, tidak ada masalah dengan hal itu. Sama sekali tidak ada masalah," tuturnya.
"Itu bukan hal memalukan dan bahkan tidak haram," ujarnya dalam sebuah video yang bisa ditonton lewat situs Youtube.
Mutairi memberi contoh Haroun al-Rasyid, pemimpin  wilayah yang meliputi Iran, Irak, dan Suriah pada abad ke-8 yang disebutnya memilki 2.000 selir.
Dia juga menyarankan dibentuknya kantor-kantor perdagangan seks yang dikelola seperti agen-agen penyedia pembantu rumah tangga. Menurut dia, budak seks itu minimal harus berusia 15 tahun.
Dia mengatakan, untuk pernikahan dengan seorang perempuan bebas diperlukan sebuah kontrak. Namun, dengan para budak seks, "lelaki hanya perlu membelinya."
Usulan Mutairi itu tentu saja memicu kemarahan warga Kuwait dan beberapa negara Arab lain. "Saya ingin tahu perasaan Salwa al Mutairi jika Kuwait diduduki tentara Irak lalu dia dijual menjadi budak seks seperti yang dia menawarkan perempuan Chechnya," dari Tweet Mona Eltahawy.
Tweet lain, dari Shireen Qudosi, bersuara lebih keras. Katanya, "Anda memalukan kaum perempuan di mana pun."

Narasumber : Compas.com

09.28 | Posted in , | Read More »

Biaya Operasi Payudara Malinda Dee Ditanggung Jamkesmas



Tersangka kasus penggelapan dana nasabah Citibank, Malinda Dee, akan menjalani operasi radang payudara. Uniknya, biaya operasi itu akan dibebankan pada Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), fasilitas untuk rakyat tak mampu. 

"Untuk biaya pengobatan, ada yang namanya Jamkesmas dan memang, dananya memang ditanggung pemerintah. Tapi dengan standar tertentu. Tidak berarti semuanya dibiayai. Kalau dia minta yang lebih dan tidak sesuai dengan Jamkesmas tentu akan menjadi tanggung jawab dari keluarga yang bersangkutan," ujar Kabareskrim Polri Komjen Ito Sumardi.

Hal itu dikatakan Ito di Gedung Kemenkum HAM, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Kamis (9/6/2011).

Ito menjelaskan setiap tahanan memang mendapat fasilitas Jamkesmas. "Setiap tahanan juga dicover oleh Jamkesmas. Tapi lebih tepatnya semua tahanan menjadi tanggung jawab Ditjen Lapas," jelas Ito.

Mengenai jumlah biaya dan teknis operasinya, Ito mengatakan belum mendapatkan laporan. 

Sementara Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam mengatakan operasi Malinda akan dilakukan tim dari RS Polri pada pekan depan.

"Operasinya belum, rencana minggu depan. Tapi sudah dilakukan pra-operasi, pra-operasi itu melakukan observasi kepada yang bersangkutan," jelas Anton.

Selama masa operasi dan perawatan, kemungkinan bisa mengganggu penyelidikan. Berkas Malinda, imbuh Anton, akan dikembalikan lagi ke Kejaksaan pekan ini.

Operasi Malinda seperti apa Pak? "Hahaha.. tanya ke dokter saja," jawab mantan Kapolda Jawa Timur ini.

Malinda ditahan terkait pencucian uang dan tindak pidana perbankan. Mantan Senior Relationship Manager Citibank Landmark itu mengalirkan dana nasabah ke beberapa rekening yang kemudian diketahui ditransfer kembali ke rekening milik Malinda. Selain Malinda, polisi juga menetapkan Dwi Herawati (eks Pegawai Citibank NA), Novianty Irine, SE (cash supervisor/head teller Citibank Landmark Jakarta) dan Betharia Panjaitan (cash supervisor/head teller Citibank Landmark.

Selain itu, polisi juga menahan Andhika Gumilang (suami siri Malinda), Viska (adik kandung), dan Ismail (ipar) karena diduga menerima dan menikmati uang dari Malinda hasil pencucian uang.


(nwk/nrl)


Follow twitter @detikcom dan gabung komunitas detikcom di facebook

12.37 | Posted in , | Read More »

Sultan Tak Ketahui Deklarasi Partai Nasdem


Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan sama sekali tidak mengetahui rencana deklarasi besar-besaran Partai Nasdem pada 26 Juli 2011 mendatang. Sultan menegaskan, Nasdem yang dia ikuti adalah organisasi massa, bukan partai.

"Saya tidak mengetahui rencana tersebut," kata Sultan yang sebagai salah satu tokoh pendiri Ormas Nasdem itu di Kepatihan, Yogyakarta, Jumat, 17 Juni 2011.

Sultan menegaskan bahwa dirinya tidak ada urusan dengan Partai Nasdem. Dia hanya punya urusan dengan Nasdem sebagai organisasi kemasyarakatan.

Seperti diberitakan sebelumnya Wakil Ketua DPW Nasdem Jawa Timur, Sugeng Suprawoto, menyebutkan deklarasi besar-besaran digelar 26 Juli 2011 nanti di Jakarta. "Setelah itu dilanjutkan dengan mendaftar ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia," kata Sugeng di Juanda, Surabaya, Kamis 16 Juni 2011.

Saat ini memang terdapat Partai Nasdem dan organisasi massa Nasional Demokrat. Ketua Umum Partai Nasdem, Patrice Rio Capella, juga dikenal aktif di organisasi massa Nasional Demokrat yang dipimpin Surya Paloh. Kedua organisasi ini, seperti diutarakan Patrice Rio Capella, sama-sama mengusung agenda restorasi Indonesia.
Laporan Juna Sanbawa | Yogyakarta
• VIVAnews

05.04 | Posted in , , | Read More »

PKS: Setgab Tak Perlu Bahas Ambang Parlemen


Wakil Ketua DPR RI Anis Matta menilai perbedaan usulan batas ambang parlemen diantara partai-partai koalisi tidak perlu dibahas dan diselesaikan dalam forum Sekretariat Gabungan.

"Di DPR saja. Lewat mekanisme biasa saja, yang penting keputusannya ini diambil lebih cepat supaya semua bisa mengantisipasi implikasi dari aturan itu," ujar Anis di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat, 17 Juni 2011.

Menurut Anis, DPR harus segera menetapkan seluruh undang-undang paket politik di tahun 2011. Karena partai-partai politik mesti mempersiapkan diri menjadi peserta pemilu 2014 dan menghadapi persaingan memenangkan pemilu tersebut sesuai dengan aturan yang ada dalam undang-undang.

"Sebaiknya seluruh undang-undang politik diputuskan tahun ini. Jadi partai-partai baik yang baru maupun yang sudah ada dapat mengantisipasi sejak awal implikasi dari seluruh aturan itu terhadap strategi kampanye mereka," kata ANis.

Fraksi PKS sudah menetapkan sikap meminta parliamentary treshold atau ambang batas parlemen 3 persen sebagai bentuk kompromi atas keinginan untuk memperbaiki sistem kepartaian dan membangun proses pemilu yang demokratis.

"Fraksi sudah menetapkan sikapnya di posisi 3 persen. Setelah pertimbangkan semuanya, Kami ambil jalan tengah saja. Kan ada yang ingin 2,5 persen sementara yang lainnya ada yang ingin 4 atau 5 persen, ya kita ambil yang sedang saja," kata ANis.

Menurut Anis, seleksi ketat partai politik yang berhak menduduki parlemen memang harus mulai dilakukan sejak sekarang. Namun, hal itu sebaiknya dilakukan dengan persyaratan ambang batas parlemen yang ditingkatkan secara perlahan.

Syarat administrasi pintu masuk bagi partai-partai politik mendaftar sebagai peserta pemilu sebaiknya dipermudah. Pada akhirnya pilihan masyarakat yang menentukan partai apa yang berhak masuk parlemen.

"Dimudahkan saja orang mendaftar partai dengan berbagai syaratnya. Adminsitrasi itu tidak apa-apa dimudahkan, tetapi seleksinya nanti di parliamentary threshold itu," kata Anis.

Ambang batas parlemen, menurut Anis, tidak perlu dinaikkan terlalu tinggi saat ini. Karena infrastruktur perpolitikan di Indonesia saat ini belum siap.

"5 persen itu sebenarnya ideal. Cuma kita perlu perhitungkan juga bahwa infrastruktur politik kita itu tidak disiapkan pada masa orde baru. Sehingga para peserta baru kan perlu waktu lebih lama untuk belajar. Jadi kalau dipaksa, bahwa sistemnya kita perketat sementara orang-orangnya tidak siap, itu kan tidak bagus juga," kata Anis.• VIVAnews

05.02 | Posted in , , | Read More »

Pimpinan DPR Dukung Panja Mafia Pemilu


Wakil Ketua DPR RI, Priyo Budi Santoso, mengatakan pimpinan DPR mendukung keinginan Panja Mafia Pemilu untuk menyingkap tabir misteri surat putusan MK atas sengketa suara pemilu bernomor 112 yang dikirim tanggal 14 Agustus 2009.

"Kami mendorong panja untuk melakukan langkah terbaik mengungkap masalah ini," ujar Priyo di DPR RI, Jakarta, Jumat 17 Juni 2011.

Oleh karena itu, pimpinan DPR menyetujui permintaan Panja Mafia Pemilu untuk meminta keterangan dari Ketua MK Mahfud MD. Rencananya, Mahfud akan diundang minggu depan.

"Rencana pekan depan, Pak Mahfud MD memang akan kita undang untuk rapat konsultasi khusus di Panja Mafia Pemilu agar menjelaskan duduk perkara ini. Karena beliau termasuk yang meniup peluit pertama atas kasus ini," kata Priyo.

Menurut Priyo, segala temuan dan hasil kerja penelusuran Panja Mafia Pemilu nanti sebaiknya menjadi bahan masukan bagi perbaikan penyelesaian masalah sengketa suara pemilu di masa mendatang.
"Saya menyarankan agar ini dijadikan sebagai lahan untuk kita dapat mendalami sesungguhnya proses penetapan anggota legislatif terpilih seperti apa," kata Priyo.

"Apakah ada awan gelap untuk pihak-pihak memainkan itu? Di mana gelap dan kelabunya? Ini penting untuk jadi pelajaran berharga agar ke depan tidak boleh diulangi lagi," lanjut politisi Partai Golkar ini.

Bila perlu, akan dibuat aturan mengenai hukuman dan sanksi tegas dalam undang-undang bagi pihak-pihak yang terbukti melakukan permainan rekayasa hasil pemilu. "Ketegasan ini patut didorong dari segi hukum," ucap Priyo. (adi)• VIVAnews

04.58 | Posted in , , | Read More »

"Kejutan" Baru dari Nazaruddin


Nazaruddin mengeluarkan "peluru" baru. Dari Singapura, dalam pesan singkatnya kepada Koran Tempo, Kamis (16/6/2011) malam, ia mengungkapkan hal baru. Mantan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat itu menuding anggota Badan Anggaran, Anglina Sondakh, I Wayan Koster, dan Mirwan Amir yang bermain dalam penganggaran proyek wisma atlet Sea Games yang bernilai Rp 191 miliar. Nama Nazaruddin sendiri dikaitkan dengan pusaran kasus yang turut menjerat Sesmenpora Wafid Muharram sebagai tersangka.

"Yang bermain anggaran di Sesmenpora itu Ibu Angelina dan Pak Wayan Koster serta pemimpin Badan Anggaran, Pak Mirwan Amir, bukan saya," demikian Nazaruddin, seperti dimuat Koran Tempo, Jumat (17/6/2011).

Nazaruddin menyatakan, dia akan membuka semuanya karena tak ingin difitnah dan menjadi bagian dari apa yang disebutnya sebagai rekayasa. Selanjutnya, Nazaruddin meminta agar mengonfirmasikan kepada Tim Pencari Fakta Partai Demokrat yang dibentuk untuk menyelidiki dugaan keterlibatan Nazaruddin dan Angelina Sondakh dalam kasus ini. Menurut anggota Komisi VII DPR ini, Angelina sudah menyampaikan seluruh fakta kepada TPF. Uang yang diduga suap, kata Nazaruddin, berasal dari Wayan Koster dan Angelina, yang kemudian diserahkan kepada Mirwan Amir. 

"Sama Mirwan Amir dibagi-bagi kepada Pimpinan Banggar. Itu penjelasan dia (Angelina) di depam tim TPF," ujarnya.

Selanjutnya, Nazaruddin meminta agar penjelasan selanjutnya dikonfirmasi kepada TPF. Menurutnya, keterangan Angelina disampaikan kepada anggota TPF Demokrat, diantaranya Jafar Hafsah, Max Sopacua, Benny K Harman, Edi Sitanggang, dan Ruhut Sitompul.

Saat dihubungi Kompas.com, Jumat siang, Ruhut mengatakan, berdasarkan keterangan yang diperoleh TPF dari Nazaruddin dan Angelina, keduanya membantah terlibat kasus itu.

"Kami sudah tanya langsung ke mereka. Katanya tidak terlibat," kata Ruhut yang tengah berada di luar negeri.

Sementara itu, Ketua TPF Demokrat Benny K Harman belum menjawab panggilan saat dihubungi melalui telepon. 

Dikaitkannya nama politisi Partai Demokrat dalam kasus dugaan suap Sesmenpora berasal dari pernyataan Kamaruddin Simanjuntak, mantan pengacara salah satu tersangka, Mindo Rosalina Manulang. Ia menyebutkan, Rosa hanya mengantarkan bos PT DGI yang juga menjadi tersangka, M El Idris, untuk bertemu Wafid atas perintah atasannya, Nazaruddin. Namun, setelah mencopot Kamaruddin, Rosa menarik keterangannya terkait Nazaruddin. 

Sejak 23 Mei lalu, Nazaruddin bertolak ke Singapura dengan alasan menjalani pengobatan. Ia mangkir dari panggilan KPK dalam pemeriksaan sebagai saksi dalam kasus dugaan suap Sesmenpora. KPK melayangkan panggilan kedua. Jika sampai panggilan ketiga ia tetap mangkir, KPK akan melakukan penjemputan paksa. 

Sumber : Kompas

22.52 | Posted in , , | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added